Saksikan bagaimana kericuhan bisa terjadi di tengah tradisi yang seharusnya sakral, hanya di Sekaten!
Sejarah panjang tradisi Sekaten Keraton Surakarta diwarnai dengan beragam peristiwa menarik, salah satunya adalah kericuhan yang terjadi pada prosesi tabuh gamelan baru-baru ini. Prosesi yang diharapkan menjadi momen suci dan penuh kebersamaan ini hari ini malah berubah menjadi drama penuh kegaduhan. Ironisnya, menantu Pakubuwana XIII, KRA Rizki Baruna Aji Diningrat, menjadi korban dari kericuhan tersebut saat dirinya didorong oleh orang tak dikenal.
Akibat dari insiden ini, Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta langsung mengambil sikap tegas dengan memastikan bahwa kericuhan itu tidak akan mengganggu jalannya tradisi. Mereka menjelaskan bahwa prokes tetap diutamakan dan pihak keraton akan berusaha membawa kembali suasana damai yang seharusnya menyelimuti tradisi ini. Di sisi lain, bagaimana peristiwa ini bisa terjadi merupakan tanda bunyi lonceng untuk mewaspadai potensi konflik di tengah masyarakat.
Kronologi dari kericuhan ini memang cukup menarik. Para penonton yang berdesakan membuat situasi memanas saat prosesi pembukaan perayaan Sekaten berlangsung. Dari adu jotos hingga demonstrasi emosi, sempat terlahir suasana yang kurang kondusif di depan Masjid Agung. Tak heran jika pihak LDA merasa perlu untuk menjelaskan bahwa kericuhan ini bukan hal baru, melainkan sudah menjadi bagian dari sejarah beberapa perayaan Sekaten sebelumnya, yang juga kerap diliputi kontroversi dan konflik.
Dari kejadian yang cukup mengejutkan ini, kini masyarakat mulai lebih mengenal keraton bukan hanya sebagai pusat budaya dan tradisi, tetapi juga sebagai tempat terjadinya dramanya sendiri. Sayangnya, laporan kasus kericuhan ini harus dibawa ke ranah hukum, menambah deretan panjang masalah di balik tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad ini. Para penggiat budaya kini harus lebih siap dan hati-hati dalam mempersembahkan tradisi agar tidak terulang lagi insiden serupa di lain kesempatan.
Meskipun kericuhan adalah hal yang tak diinginkan, menarik untuk dicatat bahwa perayaan Sekaten memiliki akar sejarah yang kuat, mengisahkan tentang syiar Islam di tanah Jawa dalam bentuk musik dan budaya. Dengan ribuan penonton yang hadir di acara ini, semoga keraton bisa tetap memelihara warisan budaya yang kaya dan menawannya, tanpa adanya keributan di antara pengunjung dan para penggiat.
Dengan beragam tradisi yang menyertainya, Sekaten adalah salah satu contoh nyata bagaimana kekayaan budaya Indonesia senantiasa dipertahankan. Semoga ke depan, prosesi-prosesi di keraton bisa dilakukan dengan melahirkan keharmonisan, sehingga semua bisa menikmati keindahan budaya tanpa ada drama menegangkan!
Ironisnya, menantu SISKS Pakubuwana XIII Hangabehi, KRA Rizki Baruna Aji Diningrat menjadi korban dalam kerusuhan itu karena didorong dan dicekik orang tak ...
TEMPO.CO, Jakarta - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengadakan tradisi Ngungelaken Gangsa, yaitu menampilkan dan memainkan untuk pertama kalinya ...
Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat memastikan ricuh yang sempat terjadi pada prosesi tabuh gamelan Senin (9/9) tidak mengganggu jalannya ...
Keributan terjadi saat prosesi pembukaan perayaan Sekaten berlangsung di Kawasan Masjid Agung, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo.
Keraton Surajarta kerap mengalami berbagai konflik dan kontroversi, terakhir [ada kegiatan Sekaten belum lama ini.
Insiden kericuhan tersebut terjadi di Halaman Masjid Agung Solo yang menjadi lokasi peletakan gamelan Sekaten Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Ketua ...
Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo akui belum tahu soal laporan kasus kericuhan tabuh gamelan di acara Grebeg Maulud.