Pemerintah di Jepang telah mengizinkan para pengguna skuter listrik untuk tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Dari dunia teater Indonesia kabar ...
Pada September 2022 Apple telah merilis ponsel iPhone seri 14. Apple telah meluncurkan iPhone 16 Pro Max](https://m.antaranews.com/berita/3357849/hoaks-apple-telah-meluncurkan-iphone-16-pro-max?utm_source=antaranews&utm_medium=mobile&utm_campaign=popular_category) [Diskoria, Laleilmanino, dan BCL hadirkan "Badai Telah Berlalu"](https://m.antaranews.com/berita/3357606/diskoria-laleilmanino-dan-bcl-hadirkan-badai-telah-berlalu?utm_source=antaranews&utm_medium=mobile&utm_campaign=popular_category)
Tokoh teater Indonesia, Nano Riantiarno meninggal dunia, hari ini Jumat (20/1/2023). Seperti ini perjalanan Nano semasa hidupnya.
Tak cuma mendalangi Teater Koma, Nano juga bekerja di berbagai tempat. Makalah-makalahnya mengenai teater modern di Indonesia pernah dia bacakan di Cornell University, Monash University, University of New South Wales, dan lainnya. Namun, di Teater Populer pun Nano tak bertahan lama. Pada 1972 sampai 1975 misalnya, Nano mendapat penghargaan dari Sayembara Penulisan Naskah Drama yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta. "Karya hebat dan kontribusi Beliau di dunia seni dan budaya Indonesia akan selalu menginspirasi kita semua. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim turut mengucapkan belasungkawa atas berpulangnya maestro di dunia
Nano Riantiarno dikenang sebagai seniman teater yang tidak mau menyerah pada tekanan politik, ekonomi, dan kesehatan.
Pendiri Teater Koma Norbertus Riantiarno atau Nano Riantiarno meninggal dunia pada Jumat (20/1).
Di tingkat internasional, Nano meraih Sea Write Award dari Raja Thailand di Bangkok atas karyanya Semar Gugat pada 1998. Norbertus Riantiarno atau yang akrab disapa Nano sudah aktif di teater sejak 1965 di kota kelahirannya, Cirebon. Peran kecil di pementasan Caligula ia dapat berkat kemampuan menghafal naskah utuh, sekaligus menggantikan pemeran aslinya yang sedang sakit.
Berita kepergian seniman Nano Riantiarno yang menyebar Jumat (20/1) pagi di berbagai WAG ( WhatsApp Group) menyentak dunia kesenian di Tanah Air.
Rencana pemakamannya Sabtu, (21/1) siang di Taman Makam Giri Tama, Tonjong, Bogor. Saat ini jenasah mendiang disemayamkan di Rumah Duka: Sanggar Teater Koma, Jl. Opera Kecoa, pada Juli-Agustus 1992, dipanggungkan oleh Belvoir Theatre, salah satu grup teater garda depan di Sydney, Australia. (1978), Sampek Engtay (1989) di Medan, Sumatra Utara, Suksesi, dan Opera Kecoa (1990), keduanya di Jakarta. Film layar lebar karya perdananya CEMENG 2005 (The Last Primadona), 1995, diproduksi oleh Dewan Film Nasional Indonesia. Teater Koma punya agenda panggung yang teratur, punya penonton setia, punya hubungan kemitraan dengan banyak institusi bisnis. Maka itu bisa bertahan hingga kini, sementara group group teater besar yang lebih dulu berkiprah bertumbangan. Baca juga: Nano salah satu seniman Indonesia yang saya kagumi. Sama dengan angka saturasinya,60 juga ( normal 95). Jumat subuh tadi tekanan darah anjlok ke 60 (120/80). Tetapi keluarga memutuskan pilihan kedua : dibawa pulang dan dirawat di rumah saja, sesuai permintaan Nano sendiri.
Sosok Nano Riantiarno meninggalkan duka mendalam bagi aktor senior Mathias Muchus. Dia mengenang sosoknya yang patut diteladani.
Kepergian sosok Nano Riantiarno memang membuat Mathias Muchus berduka. "Tadi saya dengar kabar dari istri saya, pagi-pagi beliau perginya, bahwa sahabat kita Nano Riantiarno pergi meninggalkan kita. "Sosok Nano di mata saya adalah orang yang patut diteladani, orang yang konsisten, orang yang selalu menjawab semua persoalan dengan karya, itu yang membuat saya kagum dengan beliau," ungkap Mathias Muchus.
BERITA kepergian seniman Nano Riantiarno yang menyebar Jumat (20/1) pagi di berbagai WAG (WhatsApp Group) menyentak dunia kesenian di Tanah.
Nano berhasil mengelola Teater Koma dengan manajemen modern, menjadikannya grup teater satu-satunya di Tanah Air yang berhasil menjadi "provit center". Saat ini jenasah mendiang disemayamkan di Rumah Duka: Sanggar Teater Koma, Jalan Cempaka Raya No. Pada 1 Maret 1977, dia mendirikan Teater Koma, sangat produktif di Indonesia saat ini. Opera Kecoa, pada Juli-Agustus 1992, dipanggungkan oleh Belvoir Theatre, salah satu grup teater garda depan di Sydney, Australia. Tahun 1968 Nano bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dramawan terkemuka Indonesia dan ikut mendirikan Teater Populer di tahun itu. Teater Koma punya agenda panggung yang teratur, punya penonton setia, punya hubungan kemitraan dengan banyak institusi bisnis. Nano salah satu seniman Indonesia yang saya kagumi. Saya sedang berada di Melbourne, Australia ketika Nano masuk RS. Malah, Nano sudah pula memikirkan pementasan lanjutan "Matahari di Papua" itu. Judulnya "Matahari di Papua", naskahnya sudah dia rampungkan. Nano pribadi yang baik. Tetapi keluarga memutuskan pilihan kedua: dibawa pulang dan dirawat di rumah saja, sesuai permintaan Nano sendiri.
Menjalang kepergiannya, Nano Riantiarno ingin membuat pementasan dari naskahnya yang berjudul Matahari dari Papua. Halaman all.
Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link Baca juga: